Perusahaan investasi kripto milik Jack Mallers, Twenty One Capital, kini menempati posisi sebagai perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar kedua. Posisi ini diraih setelah perusahaan penambangan MARA Holdings menjual sebagian besar cadangan BTC-nya dan turun ke peringkat ketiga.
Saat ini, Twenty One Capital memiliki sekitar 43.514 BTC dalam kas perusahaan, dengan nilai lebih dari 2,9 miliar dolar berdasarkan harga pasar terbaru, menurut data dari BitcoinTreasuries.
Perusahaan tersebut mulai melantai di bursa pada akhir tahun lalu melalui penggabungan dengan Cantor Equity Partners, sebuah perusahaan SPAC. Sahamnya kini diperdagangkan di NYSE dengan kode XXI, meskipun kinerjanya tercatat turun lebih dari 25% sejak awal tahun.
Sementara itu, MARA menjual sekitar 15.133 BTC sepanjang Maret 2026, dengan nilai sekitar 1,1 miliar dolar. Di bawah Twenty One Capital, perusahaan Jepang Metaplanet berada di posisi berikutnya dengan kepemilikan sekitar 35.100 BTC.
Analis dari Bitcoin Treasuries, Tyler Rowe, menilai situasi ini sebagai peringatan bagi industri. Ia menjelaskan bahwa MARA sebelumnya menggunakan utang secara agresif untuk mengakumulasi Bitcoin selama pasar bullish, namun kini terpaksa menjual aset tersebut—bahkan dengan potensi kerugian—untuk memenuhi kewajiban utangnya.
Strategi ini dinilai berbeda dengan pendekatan yang digunakan oleh Strategy, yang memperlakukan Bitcoin sebagai “kredit digital jangka panjang” dan menggunakannya sebagai jaminan untuk terus membiayai akumulasi aset.
Rowe juga mempertanyakan apakah perusahaan penambangan dapat bertahan sebagai perusahaan treasury Bitcoin tanpa dukungan infrastruktur pasar modal yang kuat seperti yang dimiliki Strategy.
Tekanan pada perusahaan treasury kripto
Perubahan posisi ini juga mencerminkan tekanan yang sedang dialami perusahaan kripto, baik di sektor penambangan maupun treasury, terutama akibat kondisi pasar yang menantang sejak tren bearish dimulai pada Oktober 2025 serta penurunan harga saham.
Sebelumnya, firma modal ventura Breed memprediksi bahwa hanya sebagian kecil perusahaan treasury kripto yang mampu bertahan dari “death spiral” akibat penurunan nilai aset bersih pasar (mNAV). Perusahaan yang masih dapat mempertahankan premi harga memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pendanaan tambahan.
Sebaliknya, perusahaan yang kehilangan akses ke pembiayaan murah kemungkinan harus menjual kepemilikan Bitcoin mereka untuk memenuhi kewajiban utang.
CEO HashKey Capital, Deng Chao, juga menyatakan bahwa perusahaan yang memperlakukan aset kripto hanya sebagai spekulasi cenderung tidak mampu bertahan dalam siklus pasar. Sementara itu, perusahaan dengan strategi pengelolaan aset yang disiplin memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dalam jangka panjang.









