Sistem keuangan terdesentralisasi (DeFi) sangat bergantung pada otomatisasi. Sayangnya, otomatisasi ini juga berarti bahwa kesalahan teknis kecil dapat memicu kerugian finansial yang masif. Pada 10 Maret 2026, hal ini terjadi di protokol pinjaman Aave, di mana kesalahan harga sebesar 2,85% pada jaminan aset memicu gelombang likuidasi senilai $27 juta.
Akar Masalah: Miskonfigurasi Sistem Oracle
Banyak yang awalnya mengira likuidasi ini disebabkan oleh jatuhnya pasar atau rusaknya price oracle (sistem yang menyuplai data harga dari luar ke dalam blockchain). Namun, firma pemantau risiko Chaos Labs menemukan bahwa masalah sebenarnya terletak pada fitur pelindung Aave yang disebut CAPO (Correlated Assets Price Oracle).
-
Kesalahan Parameter: Kontrak pintar (smart contract) CAPO menyimpan parameter yang kedaluwarsa—khususnya nilai tukar referensi dan stempel waktu (timestamp).
-
Aset yang Salah Dinilai: Akibatnya, sistem membatasi harga token wstETH (Wrapped Staked ETH) di angka 1,19 ETH, padahal harga pasar sebenarnya adalah 1,23 ETH.
-
Efek Domino: Selisih 2,85% ini membuat banyak posisi pinjaman pengguna seolah-olah kekurangan jaminan (undercollateralized), yang langsung memicu sistem otomatis Aave untuk melikuidasi aset mereka dalam hitungan detik.
Dampak pada Ekosistem
-
Kerugian Pengguna vs. Keuntungan Bot: Posisi pinjaman senilai sekitar $27 juta dilikuidasi. Bot likuidator berkecepatan tinggi meraup keuntungan sekitar 499 ETH dari diskon aset jaminan tersebut.
-
Protokol Tetap Aman: Meskipun pengguna merugi, pendiri Aave, Stani Kulechov, memastikan bahwa sistem inti Aave berfungsi sesuai desain dan tidak ada kredit macet (bad debt) yang membebani protokol.
-
Lido Tidak Bersalah: Pihak Lido mengonfirmasi bahwa tidak ada kerusakan pada token wstETH. Kesalahan murni berada pada cara Aave membaca dan mengelola data harga.
Langkah Perbaikan dan Pelajaran Penting
Sebagai bentuk tanggung jawab, tata kelola Aave (DAO) telah mengusulkan pengembalian dana (refund) kepada para pengguna yang terdampak akibat insiden infrastruktur ini. Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi dunia DeFi bahwa price oracle dan parameter smart contract—terutama untuk aset yang terus menghasilkan imbal hasil seperti wstETH—membutuhkan sinkronisasi presisi tinggi untuk mencegah bencana serupa di masa depan.









