Bitcoin menunjukkan performa yang solid pekan ini dengan berhasil melampaui angka $73.000 dan bertahan di atas level dukungan (support) $70.000. Penguatan ini utamanya didorong oleh lemahnya data ekonomi Amerika Serikat serta ketegangan geopolitik akibat konflik Israel-Iran, yang membuat para investor beralih ke aset-aset langka sebagai tempat berlindung.
Pertumbuhan ekonomi AS tercatat lesu, hanya mencapai 0,7% pada kuartal terakhir 2025. Hal ini meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya resesi di tahun 2026. Situasi ini berdampak pada naiknya imbal hasil obligasi AS (Treasury) ke angka 4,26%, sekaligus mendorong minat institusional terhadap kripto. Arus masuk yang signifikan terlihat pada ETF Bitcoin spot maupun akumulasi besar-besaran oleh perusahaan institusional.
Namun demikian, berbagai indikator menunjukkan bahwa fase bear market—yakni koreksi panjang sejak Bitcoin anjlok dari puncaknya di $126.000 pada Oktober 2025—kemungkinan besar belum berakhir. Berikut beberapa alasannya:
-
Korelasi Saham Teknologi: Bitcoin saat ini memiliki korelasi yang sangat tinggi (84%) dengan indeks saham Nasdaq 100. Jika inflasi yang membandel memicu koreksi di pasar saham, harga Bitcoin berisiko besar ikut terseret turun.
-
Tekanan Harga Minyak: Tingginya harga minyak dunia (sekitar $30 lebih mahal dari level sebelum perang) menekan daya beli konsumen dan membatasi modal yang dimiliki oleh investor ritel untuk masuk ke pasar kripto.
-
Arus ETF Bersifat Reaktif: Masuk dan keluarnya dana besar-besaran di ETF spot tampaknya hanya mengikuti pergerakan harga Bitcoin yang ada, bukan menjadi indikator awal penentu arah pasar.
Kesimpulannya, meskipun kemampuan Bitcoin mempertahankan posisi di atas $70.000 menunjukkan kepercayaan diri pasar, situasi makroekonomi saat ini belum memberikan kepastian bahwa tren penurunan jangka panjang telah benar-benar usai.









