Pasar keuangan global menunjukkan pergerakan yang saling bertolak belakang pada awal pekan ini. Pernyataan menenangkan dari Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, sukses meredakan kepanikan di pasar obligasi. Namun, lonjakan harga minyak mentah yang tak terbendung akibat ketegangan geopolitik akhirnya menekan bursa saham Amerika Serikat dan menggerus keuntungan aset kripto.
Berbicara di Universitas Harvard pada hari Senin, Powell mengisyaratkan bahwa bank sentral AS untuk saat ini memilih untuk mengesampingkan dampak lonjakan harga energi jangka pendek yang dipicu oleh konflik Iran. The Fed akan tetap menahan suku bunga dan fokus pada ekspektasi inflasi yang menurutnya masih “terkendali” dengan baik.
“Pada akhirnya kita mungkin akan dihadapkan pada pertanyaan tentang langkah apa yang harus diambil terkait situasi ini,” ujar Powell dalam pidatonya. “Namun, kita belum benar-benar menghadapinya sekarang karena kita belum mengetahui secara pasti seperti apa dampak ekonominya nanti.”
Komentar bernada dovish ini langsung disambut hangat oleh pasar obligasi, yang sebelumnya telah memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Tercatat, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turun sembilan basis poin menjadi 4,35%. Penurunan juga terjadi pada obligasi tenor 2 tahun yang merosot delapan basis poin ke level 3,83%.
Lebih lanjut, data dari CME FedWatch menunjukkan bahwa probabilitas terjadinya satu atau lebih kenaikan suku bunga The Fed pada tahun 2026 anjlok drastis menjadi hanya 5%, turun tajam dari posisi 25% pada Jumat pekan lalu.
Aset Berisiko Tertekan Harga Energi
Sayangnya, angin segar dari The Fed tidak cukup kuat untuk menopang selera risiko investor di pasar saham dan kripto. Katalis negatif utama datang dari pasar komoditas, di mana harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meroket 5,3% dan nyaris menyentuh $105 per barel.
Meski harga WTI sempat beberapa kali diperdagangkan di atas level psikologis $100 sejak konflik Iran memanas, penutupan perdagangan hari Senin menandai pertama kalinya harga minyak berhasil ditutup di atas level tersebut sejak tahun 2022.
Kondisi ini seketika menghapus tren positif yang sempat terjadi di awal sesi perdagangan Wall Street. Indeks padat teknologi Nasdaq harus ditutup melemah 0,75%, sementara indeks S&P 500 terkoreksi sebesar 0,4%.
Nasib serupa juga dialami oleh pasar aset digital. Bitcoin (BTC), yang sempat mencatatkan kenaikan di awal hari, terpaksa menyerah pada tekanan pasar dan kembali merosot ke level $66.500. Posisi ini membuat pergerakan Bitcoin cenderung stagnan jika diakumulasikan dalam 24 jam terakhir. Menguatnya harga energi tampaknya memaksa para pelaku pasar untuk kembali mengkalkulasi ulang strategi investasi mereka di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik global.









