Blockped

Harga Emas Anjlok 20%, Bitcoin Tunjukkan Ketahanan di Tengah Gejolak Global

Harga Emas Anjlok 20%, Bitcoin Tunjukkan Ketahanan di Tengah Gejolak Global

Pasar keuangan global saat ini sedang menghadapi gelombang ketidakpastian yang semakin meningkat. Situasi geopolitik yang memanas akibat konflik AS-Israel dan Iran, yang meletus sejak akhir Februari 2026, telah melumpuhkan jalur perdagangan vital di Selat Hormuz. Dampak konflik ini kini meluas dan mulai mempengaruhi berbagai Aset Investasi.

Di sisi lain, outlook ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan sikap yang hawkish. Tantangan kenaikan inflasi di negara tersebut semakin nyata, menambah beban spekulasi di pasar. Kombinasi faktor geopolitik dan makroekonomi ini menciptakan anomali menarik pada pergerakan harga aset safe haven tradisional seperti Emas dibandingkan dengan aset digital seperti Bitcoin.

Anomali Pasar: Emas Terkoreksi Dalam, Bitcoin Stabil

Kejatuhan Harga Emas dari Rekor Tertinggi

Secara mengejutkan, harga Emas mengalami penurunan yang sangat signifikan. Aset yang biasanya diburu saat krisis ini anjlok lebih dari 20% dari rekor tertingginya di level US$ 5.589. Pada Jumat (27/3/2026), harga Emas terkoreksi ke kisaran US$ 4.427 per troy ons.

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai koreksi dalam pada Emas dipicu oleh faktor struktural. Penguatan mata uang dolar AS dan potensi berlanjutnya kenaikan yield obligasi AS pasca-sikap hawkish The Fed menjadi penyebab utama. Faktor-faktor ini menggerus daya tarik Emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), ditambah adanya likuidasi masif di pasar derivatif.

Ketahanan Bitcoin sebagai ‘Emas Digital’ Modern

Di tengah keterpurukan Emas, Bitcoin (BTC) justru menunjukkan ketahanan yang sulit diabaikan oleh para pelaku Investasi. Berdasarkan data per Jumat (27/3), BTC masih diperdagangkan solid di kisaran US$ 66.000. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 1,86% dalam sebulan terakhir.

Fahmi mencatat bahwa sejak konflik di Timur Tengah bermula pada 28 Februari lalu, performa harga Bitcoin telah mengungguli Emas sekitar 20%. Meskipun BTC tidak terlepas dari tekanan makro, karakteristiknya yang borderless (tanpa batas negara) dan suplai yang terbatas secara algoritmik mulai mengisi celah yang ditinggalkan Emas di mata investor institusional.

Sentimen Institusional dan Fundamental On-Chain Bitcoin

Akumulasi Agresif oleh Korporasi dan Target Sentimen Positif

Data institusional memperkuat narasi ketahanan Bitcoin. Perusahaan Strategy (sebelumnya MicroStrategy) kini menggenggam 762.099 BTC, setara dengan sekitar 3,6% dari total pasokan global. Sepanjang tahun ini, perusahaan tersebut tercatat menambah kepemilikan Bitcoin mereka secara lebih agresif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Katalis sentimen terbesar pekan ini datang dari manajer aset raksasa, Bernstein, yang memiliki AUM lebih dari US$ 800 miliar. Pada 24 Maret, Bernstein menegaskan bahwa Bitcoin kemungkinan besar telah menemukan titik terendahnya. Mereka mempertahankan target harga akhir tahun yang optimis di level US$ 150.000, yang berarti ada potensi kenaikan lebih dari 110% dari harga saat ini.

Dinamika Suplai yang Semakin Ketat (Supply Squeeze)

Dari sisi fundamental on-chain, tekanan pada sisi suplai semakin nyata. Data dari Glassnode menunjukkan bahwa lebih dari 60% pasokan Bitcoin saat ini dipegang oleh pemegang jangka panjang (long-term holders). Hal ini mengindikasikan kuatnya keyakinan investor terhadap nilai jangka panjang BTC.

Selain itu, pada sekitar 10 Maret lalu, Bitcoin mencapai milestone penting dengan 20 juta BTC yang telah beredar. Ini berarti hanya menyisakan sekitar 1 juta BTC lagi yang masih bisa ditambang selama 114 tahun ke depan.

“Kombinasi akumulasi institusional yang masih cukup agresif dan dinamika supply squeeze ini menciptakan fondasi yang semakin kokoh untuk pergerakan harga jangka panjang,” tambah Fahmi. Meski demikian, ia mengingatkan investor untuk tetap mewaspadai potensi volatilitas tinggi dalam jangka pendek.

Implikasi bagi Investor di Indonesia: Peluang Diversifikasi

Dinamika pasar global ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang nyata bagi investor di Indonesia. Sebagai negara net-importer minyak, kenaikan harga minyak mentah (crude oil) akibat konflik global secara langsung menekan nilai tukar Rupiah. Kondisi ini berpotensi mendorong inflasi domestik menjadi lebih tinggi.

Situasi tersebut diperparah oleh potensi berlanjutnya penguatan dolar AS menyusul sikap hawkish The Fed. Dalam konteks ekonomi seperti ini, Fahmi menilai Bitcoin menawarkan proposisi nilai yang semakin relevan bagi pasar Investasi Indonesia.

Bitcoin merupakan aset likuid global dengan batas suplai tetap yang tidak terpengaruh oleh kebijakan moneter negara mana pun. Ketika inflasi menggerus daya beli mata uang domestik, eksposur terhadap aset seperti Bitcoin dapat menjadi salah satu strategi Diversifikasi Portofolio yang patut dipertimbangkan oleh investor.

Picture of pediadmin

pediadmin

You may also like